PBB soroti perekrutan anak-anak oleh ekstrimis.

Para pemberontak Maois telah melakukan penculikan dan indoktrinasi terhadap anak-anak, demikian dinyatakan oleh PBB dalam sebuah laporan baru yang juga meneliti masalah penyiksaan anak yang dilakukan oleh TTP yang berbasis di Pakistan dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya di seluruh bagian negara tersebut.

Oleh Chandan Das untuk Khabar South Asia di Jamshedpur

Juni 29, 2012
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

Pemberontak Maois di bagian utara India telah memanfaatkan anak-anak sebagai staff pendukung, demikian menurut sebuah laporan PBB yang telah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon kepada Badan Keamanan PBB bulan ini.

  • Pelajar perempuan mengendarai sebuah sepeda melewati polisi yang sedang berpatroli di sebuah jalan dekat Lalgarh, Benggala Barat. Menurut sebuah laporan PBB, para pemberontak Maois di India sekarang ini merekrut para pejuang anak-anak sebagai staff pendukung. [Parth Sanyal/Reuters]

    Pelajar perempuan mengendarai sebuah sepeda melewati polisi yang sedang berpatroli di sebuah jalan dekat Lalgarh, Benggala Barat. Menurut sebuah laporan PBB, para pemberontak Maois di India sekarang ini merekrut para pejuang anak-anak sebagai staff pendukung. [Parth Sanyal/Reuters]

Laporan tersebut, berjudul "Anak-anak dan Konflik Bersenjata", menemukan bahwa anak-anak di bawah umur sedang direkrut dari daerah Chhattisgarh dan negara bagian yang bersebelahan seperti Jharkhand dan Odisha. Laporan itu mengutip sebuah laporan pemerintah India bulan Desember 2011, yang menemukan bahwa para Maois "merekrut dan mengindoktrinasi anak-anak, dan telah membentuk satuan anak-anak dan asosiasinya."

Anak-anak tersebut, menurut laporan, dibawa ke barisan para Maois melalui penculikan dan intimidasi, dan kemudian "dilatih sebagai kurir, mata-mata, tukang masak, dan penjaga". Ini adalah pertama kalinya para pemberontak Maois, yang dikenal didaerah setempat sebagai Naxal, disebutkan di dalam sebuah laporan PBB.

Seorang pejabat polisi setempat di Chhattisgarh telah memastikan bahwa pihak berwenang telah menemukan kemungkinan bukti perekrutan anak tersebut.

"Ya, laporan itu benar," dikatakan oleh R. K. Vij, inspektur jenderal kepolisian untuk daerah Durg dari Chhattisgarh, dalam sebuah jumpa pers. "Baru-baru ini, ketika kami menyerbu sebuah kamp Maois yang terletak di sebuah hutan di distrik Rajnandgaon yang berbatasan dengan distrik Gadchiroli, Maharashtra kami bingung ketika menemukan begitu banyaknya seragam sekolah, di samping banyaknya senjata dan amunisi dipersembunyian para pemberontak tersebut."

Namun demikian, tambahnya, mungkin ada sebuah penjelasan lain. "Kami mencurigai bahwa para ekstrimis tersebut telah melakukan sebuah cara penyerangan baru untuk mengelabui pasukan keamanan dengan mengenakan seragam sekolah pada saat ditemukan."

"Kami telah menekan jaringan intelijen kami di seluruh daerah yang didominasi Maois untuk memecahkan misteri pendekatan terbaru yang dilakukan oleh para Maois," kata Menteri Dalam Negeri Chhattisgarh Nanki Ram Kanwar kepada Khabar South Asia.

Sebagai tambahan tentang para milisi di India, laporan PBB tersebut juga mengutip masalah penganiayaan anak-anak di Pakistan oleh Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dan beberapa kelompok sejenisnya, dimana dikatakan bahwa anak-anak di bawah umur dimanfaatkan untuk melakukan serangan-serangan bunuh diri.

Selama tahun 2011, sejumlah 11 peristiwa yang melibatkan anak-anak telah dilaporkan - termasuk seorang gadis berusia sembilan tahun - yang digunakan oleh para kelompok bersenjata untuk melakukan serangan-serangan bunuh diri.

"Seorang anak laki-laki terbunuh dan seorang lainnya ditangkap dalam dua buah serangan bunuh diri terhadap sebuah kuil Sufi di Dera Ghazi Khan, Punjab bagian selatan, yang membunuh 50 orang dan melukai 120 orang (pada bulan April 2011)," demikian menurut laporan tersebut. "Seorang anak berusia 14 tahun yang selamat dilaporkan telah dilatih selama dua bulan di kamp-kamp Taliban di Waziristan Utara."

"Dalam peristiwa lain pada tanggal 19 Agustus 2011, seorang anak laki-laki telah dimanfaatkan dalam sebuah serangan bunuh diri pada waktu shalat Jumat di sebuah mesjid di daerah Ghundai di lingkungan Khyber, membunuh 48 orang dan melukai lebih dari 100 orang," katanya

Menurut Nishant Akhilesh, presiden dari Bagian Jharkhand dari Persatuan Masyarakat untuk Kebebasan Sipil, masalah perekrutan anak-anak tidak terbatas terhadap satu kelompok atau ideologi. Kaum muda yang mudah dipengaruhi juga rentan terhadap organisasi yang mencoba memaksakan pandangan yang ekstrim atau memecah belah, ia mengatakan.

"Kaum Maois bukan pengecualian karena sekarang beberapa organisasi merekrut anak-anak. Contohnya, ada beberapa kelompok masyarakat, sekolah, madrasah, gereja, dan yang lainnya, yang mengajarkan keunggulan agama," kata Akhilesh.

"Anak-anak mudah menerima informasi melalui pikiran dan sifat alami mereka dan dapat diarahkan menjadi seorang Maois atau berpikiran menentang pemerintah. Akan tetapi, juga anak-anak dapat juga dijadikan komunal melalui khotbah secara terpadu," katanya.

Apa pendapat Anda mengenai artikel ini? (Jumlah Suara: 0)

0 Tidak Suka

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Thailand baru saja mengumumkan rencana untuk melakukan dialog perdamaian dengan beberapa kelompok pemberontak utama di Ujung Selatan. Apakah dialog-dialog ini akan menghasilkan berkurangnya kekerasan?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Para pelajar di Desa Banjaran Borobudur, Jawa Tengah, bekerja paruh waktu setelah sekolah membuat keramik. Mereka menggunakan uang pendapatan mereka untuk biaya sekolah dan untuk membantu keluarga mereka. [Okky Feliantar/Khabar]

Kaum muda Indonesia: kreativitas di tempat kerja

Di Jawa, banyak kaum muda Indonesia yang memberikan kontribusi bagi perekonomian setempat, menggunakan keterampilan dan kreativitas mereka, dan bahan yang tersedia di lingkungan mereka. Bagi beberapa orang, kegiatan tersebut telah membuka pintu ke pasar nasional dan bahkan global.