Mantan jihadis sekarang pimpin upaya perdamaian

Dipicu kecurigaan dan kesulitan ekonomi, seorang mantan anggota JI dan NII sekarang mendukung upaya deradikalisasi di Indonesia.

Oleh Zahara Tiba untuk Khabar Southeast Asia di Jakarta

Desember 08, 2012
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

Hari dimana Ahmad Sajuli meninggalkan keluarga, rumah, dan negaranya untuk berjuang demi jihad di Afganistan adalah hari yang mungkin akan disesalinya seumur hidupnya, tidak hanya karena dia harus menghadapi kesulitan ekonomi, tetapi juga karena dia harus menghadapi prasangka buruk karena telah dicap sebagai seorang teroris.

  • Ahmad Sajuli, 48 tahun, adalah seorang jihadis Indonesia yang berjuang di Afganistan selama perang Afganistan-Soviet pada tahun 1980-an, tetapi merasa bahwa kelompok militan dan teroris telah mengaburkan makna jihad. Dia adalah direktur utama Forum Komunikasi Eks-Kombatan Afganistan, sebuah kelompok baru yang mendukung upaya deradikalisasi di Indonesia. [Zahara Tiba/Khabar]

    Ahmad Sajuli, 48 tahun, adalah seorang jihadis Indonesia yang berjuang di Afganistan selama perang Afganistan-Soviet pada tahun 1980-an, tetapi merasa bahwa kelompok militan dan teroris telah mengaburkan makna jihad. Dia adalah direktur utama Forum Komunikasi Eks-Kombatan Afganistan, sebuah kelompok baru yang mendukung upaya deradikalisasi di Indonesia. [Zahara Tiba/Khabar]

Pada saat menjadi anggota organisasi pemuda di sebuah masjid di Tanjung Priok, Jakarta pada tahun 1984, Ahmad diperkenalkan denganNegara Islam Indonesia (NII), sebuah organisasi yang bertujuan mengubah negara ini menjadi negara Islam menurut hukum syariah. Pada saat itu, dia berusia 20 tahun dan sudah menikah.

Setahun setelah direkrut, NII menawarkan kesempatan baginya untuk pergi ke Afganistan, dimana perang meletus antara Mujahidin Afganistan dan bangsa yang dulunya adalah Uni Soviet.

"Saya dulu adalah pemuda naif, tidak berpikiran kritis, dan berpengetahuan terbatas. Mereka dengan mudah mengindoktrinasi saya," tutur Ahmad, 48 tahun, kepada Khabar Southeast Asia. "Saya setuju bergabung dengan jihad karena sebagai orang Muslim, kami didorong untuk membantu sesama orang Muslim yang bermasalah. Hal ini menunjukkan persaudaraan Islam."

Meninggalkan keluarga dan negaranya adalah keputusan yang berat. Dia harus berbohong kepada keluarganya, dan berkata kepada mereka, dia pergi Afganistan untuk bekerja.

Segera setelah dia tiba di sana, Ahmad menghadapi keadaan yang tidak pernah dialaminya sebelumnya.

"Saya dikirim ke akademi militer di daerah perbatasan antara Afganistan dan Pakistan untuk beberapa waktu. Di sana, saya dilatih menjadi tentara dan belajar cara menggunakan senapan, sebelum memasuki medan perang yang sesungguhnya," kenang Ahmad.

"Saya menyebutnya makna sejati jihad. Kami memiliki zona perang khusus, musuh nyata, dan peraturan. Saya masih ingat, kami harus berjalan 10 km menuju zona perang. Kami dilarang menghancurkan apapun yang kami lewati, mencuri dan tentu saja membunuh anak-anak dan wanita, bahkan hewan," dia menambahkan.

Sekarang, Ahmad merasa bahwa makna jihad telah dikaburkan oleh kelompok ekstrimis yang memilih warga sipil sebagai sasaran mereka. Bahkan wanita dan anak-anak seringkali menjadi korban perbuatan mereka.

"Definisi jihad di Indonesia sudah melenceng," katanya kepada Khabar. "Tanpa memikirkannya secara kritis, mereka mungkin membicarakan fatwa Osama bin Laden yang kabarnya memperbolehkan orang Muslim untuk membunuh orang Amerika dan sekutu mereka, di manapun di dunia."

"Indonesia bukanlah zona perang. Negara ini damai. Jihad diperlukan pada saat negara diserang pihak luar," ujar Ahmad.

Jalan pulang yang sulit

Ahmad tinggal selama tiga tahun di Afganistan, lalu pindah ke Malaysia dimana dia menetap selama 17 tahun dan membuka toko kain. Tetapi dia dideportasi pada tahun 2006, setelah bom Bali yang kedua, karena dia bergabung dengan Jemaah Islamiyah (JI), kelompok yang melakukan serangan tersebut. Meskipun dia mengaku tidak terlibat secara pribadi, pemerintah Malaysia menyita semua uang simpanannya.

Sekarang ini dia tinggal di Depok, Jawa Barat, dan menjual kebab dan kue untuk membiayai keluarganya. Tetapi, dalam kehidupannya, dia tahu bahwa banyak orang mencurigai bahwa dia adalah seorang teroris.

Ahmad berkata, dia dan sekitar 300 mantan pejuang terus dicurigai, dan secara tidak adil dikaitkan dengan hampir semua serangan di negara ini. Jadi, dia dan teman-temannya mendirikan Forum Komunikasi Eks-Kombatan Afganistan, yang terdaftar sebagai organisasi umum resmi pada bulan Oktober.

Forum ini bertujuan membantu memerangi radikalisme dan terorisme melalui diskusi umum dan upaya lainnya, dan telah bekerja dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mendukung upaya deradikalisasi, katanya.

BNPT juga telah membantu forum ini, menurut psikolog Sarlito Wirawan Sarwono, seorang penasihat untuk badan ini, kepada Khabar.

"Termasuk strategi kami untuk memerangi radikalisme dan terorisme adalah mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam proyek kami, memberi mereka keterampilan hidup, pelatihan, dan memberi bantuan hukum untuk mendirikan forum ini sebagai organisasi resmi bagi para anggotanya," katanya.

Analis terorisme Al Chaidar, seorang dosen di Universitas Malikus Saleh di Aceh, berkata, kelompok Ahmad dapat menjadi suara yang sangat efektif bagi deradikalisasi, dan berharap pemerintah akan mendukungnya secara serius.

"Forum ini memiliki pengaruh baik terhadap kelompok radikal. Menurut saya, ini cara yang efektif untuk memerangi radikalisme dan terorisme," katanya.

Suara bagi perdamaian

Ahmad juga mencari lebih banyak dukungan bagi forum ini, karena anggaran pemerintah sangat kecil. Pada tahun 2013, dia berencana membuka program deradikalisasi untuk kelompok umum dan radikal, termasuk Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Rempug (FBR) – keduanya dikenal karena tindakan kekerasan mereka dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami berharap, perusahaan swasta dan negeri bisa membantu kami agar berhasil dalam program ini," Ahmad berkata.

Ahmad takjub akan banyaknya peserta yang menghadiri diskusi anti-terorisme pada tanggal 14 Agustus yang disponsori forum bersama Pusat Penelitian Ilmiah Kepolisian dari Universitas Indonesia. Acara ini diadakan di kecamatan Manggarai, Jakarta.

"Mereka semua antusias untuk mempelajarinya lebih lanjut. Salah satu pesertanya adalah ibu rumah tangga, yang berkata dia tidak akan mengetahui hal ini jika tidak menghadiri diskusi. Dia berkata, sekarang dia lebih waspada akan radikalisasi yang dapat mengancam keluarganya kapan saja," kata Ahmad.

Komentar Pembaca
KLIK DI SINI Untuk Menambah Komentar
    • abdullah
      June 22, 2014 @ 07:06:07PM
    • berfikir itu baik . namun merenungi jalan hidup yg penuh tipu daya jangan sampai kita terjebak .dan hidup itu pilihan semoga anda tidak salah dlm memilihnya.
    • abdul kadir
      April 30, 2014 @ 11:04:07AM
    • restukturisasi pemikiran adalah suatu yang sangat positif dilakukan bagi yang pernah melenceng dalam pemikirannya.
    • A.Widodo
      February 26, 2013 @ 01:02:35AM
    • Sebagai bangsa Indonesia yang mendambakan negara dan bangsa yang aman sejahtera, rukun sentosa, saya mengacungkan jempol buat pak Ahmad Sajuli yang telah sadar bahwa jihad bukan semata buat perang angkat senjata. tapi untuk persatuan bangsa tanpa pembedaan atas rakyatnya. Terus basmi para anarchis/ perongrong kewibawaan negara/ bangsa Indonesia,
    • nuryatna
      February 22, 2013 @ 08:02:22PM
    • Saya setuju.
    • temi
      February 19, 2013 @ 07:02:25PM
    • bagus sekali
    • aad
      February 19, 2013 @ 07:02:17AM
    • Bagus, bagus.
    • berly
      February 16, 2013 @ 08:02:25AM
    • ngapain sih
    • nadra
      February 16, 2013 @ 02:02:02AM
    • its debest...
    • alifia
      February 15, 2013 @ 11:02:56PM
    • Bagus.
    • Andi
      February 15, 2013 @ 12:02:56AM
    • Bagus.
    • FARID
      February 13, 2013 @ 02:02:18AM
    • Berjihadlah yang benar seperti ajaran Rosululloh,Bukankah Rosululloh itu USWATUN KHASANAH Dan ROHMATAN LIL ALAMIIN.
    • ayu
      February 11, 2013 @ 09:02:55PM
    • maju terus pantang mundur
    • rahma
      February 8, 2013 @ 02:02:56AM
    • aduhhhh sabar ya
    • bintang
      February 7, 2013 @ 05:02:10AM
    • harusnya seperti koran yg pd lainya
    • harry
      February 5, 2013 @ 06:02:46PM
    • assalamualaikum, sebuah proses hidup yang mahal...teruslah berjuang demi syiaR dengan berpedoman aturan yg seimbang...amien
    • fawwas
      February 5, 2013 @ 06:02:31PM
    • bang lo...dapat uang triliunan ya kok sudah bengkok mudah-mudahan tempatmu neraka sakor
    • udin
      February 4, 2013 @ 08:02:48PM
    • Tabah dan bersabarlah. Semoga Allah SWT selalu menyertai Anda Mr. Ahmad.
    • nail
      February 4, 2013 @ 06:02:18PM
    • Jihad...maju terus!!!
    • arif kurniawan.
      February 3, 2013 @ 11:02:10PM
    • jalani hidup harus di iringi dengan agama kepercayaan masing-masing.
    • Jonathan Fikri
      January 31, 2013 @ 02:01:12AM
    • Iman and Taqwa with very strong to Allah SWT.
    • Kelly
      January 30, 2013 @ 11:01:40AM
    • Bagus.
    • ranielt
      January 30, 2013 @ 02:01:18AM
    • Ahmad Sajuli merupakan orang hebat yang mengubah dirinya demi perdamaian! Pengalamannya akan membawa dampak yang berarti untuk kehidupan banyak orang yang telah ditipu tentang makna jihad dan tujuan Islam yang sebenarnya. Semua orang memiliki kebebasan untuk memilih agamanya karena percaya akan keberadaan yang Maha Kuasa.
    • Aris jatmiko
      January 28, 2013 @ 08:01:44PM
    • Benar pak ahmad..jihad itu perjuangan menuju kemuliaan manusia..
    • m shabil lee
      January 28, 2013 @ 07:01:38PM
    • Bersabarlah. Ketekunan nantinya akan dibalas oleh Allah.
    • Mr ahmad jaenudin
      January 27, 2013 @ 07:01:11AM
    • Ya..syukurlah taubat,....memang harusnya strateginya begitu memburu penjahat hrs di undang oleh temannya,tapi mesti hati2 jadi sasaran target teman....
    • Hidayat Jonas Manggis.Ssos MAp
      January 26, 2013 @ 05:01:55PM
    • Sebaiknya ......jangan agama dibawa bawa dalam perbuatan apapun ......sebab kekuatan dan kepandaian yang kita miliki atau kita dapatkan tidak sehebat dg Nabi Muhammad S.A.W. Nabi kita banyak memberikan contoh yang baik kepada kita semua ummatnya......bukan kita menerima contoh itu lalu membaliknya dan diajarkan kepada orang orang yang lemah ......termasuk orang yang lemah Ekonominyanya....Wassalam HJM
    • jagolila
      January 26, 2013 @ 01:01:20AM
    • Solidaritas antara saudara dan saudari sesama Muslim, kenapa tidak?
    • ida
      January 22, 2013 @ 03:01:43AM
    • semangat
    • fikihpasawali
      January 21, 2013 @ 08:01:43PM
    • CCD BANGET GA JELAS KAU PADA
    • Swarna Dwipayana
      January 20, 2013 @ 11:01:47PM
    • Berjidahlah dijalan Allah SWT, berperilaku terpuji itu baru namanya jidah.
    • nurrohmah
      January 20, 2013 @ 01:01:03AM
    • bagi teman2 aku yg terkena banjir dan bencana apa pun tetap tabah,aku di sini hanya bisa berdoa untuk kalian.
    • moch ali
      January 18, 2013 @ 01:01:08AM
    • kita sebagai bangsa indonesia kalau mau jihat hendaknya di aplikasi sebagai bangsa yang berdaulat dan mempedomani 4 pilar kebangsaan
    • indonesia
      January 16, 2013 @ 12:01:56PM
    • sumur
    • mozihano
      January 10, 2013 @ 08:01:09PM
    • semangat jhad anda sudah luntur
    • risma mawar dayanti
      January 10, 2013 @ 12:01:17AM
    • gambar peta wilayah indonesia kya mna
    • eddy samsidi
      January 9, 2013 @ 07:01:35AM
    • perlu perbanyak forum deradikalisasi
    • ricky gusti randa
      January 3, 2013 @ 05:01:56AM
    • Wah, hebat.
    • fiqri better
      January 2, 2013 @ 09:01:25AM
    • aktivin yh pliss
    • Sukijan
      January 1, 2013 @ 08:01:14AM
    • Persatuan dan kesatuan umat Islam sangat diperlukan dalam penjelasan tetang jiahat yang sebenarnya.
    • aiko
      December 31, 2012 @ 08:12:24AM
    • Tolong jangan gunakan kata jihadis untuk orang jahat. Jihad berarti berusaha sekuat tenaga untuk tujuan yang baik, setara dengan kata ganbaru di Jepang. Jihad bukan perang. Bagi saya, setiap orang harus berjihad. Pelajar berjihad dengan pelajarannya, pekerja berjihad untuk keluarganya, ibu berjihad ketika melahirkan anak-anaknya, bahkan melindungi diri, keluarga, dan harta termasuk dalam jihad.
    • moch ali
      December 28, 2012 @ 01:12:36AM
    • kalau misi untuk jihad, bukab cara brutal, unjuk rasa,demo dan anarkis tetapi keluarkan ide dengan cara diplomasi,seminar ,
    • imamgozllag
      December 27, 2012 @ 09:12:57AM
    • Ya.
    • Husni Tamrin
      December 27, 2012 @ 01:12:07AM
    • Salam damai, saya setuju bahwa forum yg dipimpin pa Ahmad dapat memberi pengaruh secara efektif untuk meluruskan makna jihad bagi umat islam, dan diharap mampu menyadarkan mereka yg tlah terdoktrinasi faham islam radikal.
    • Indri Lestari
      December 25, 2012 @ 09:12:02PM
    • Waaahhh .... keren abiezzz nii artikel ,a
    • Hermansyah
      December 25, 2012 @ 11:12:48AM
    • cukup baik saya sangat tertarik
    • nordin omor
      December 24, 2012 @ 07:12:00PM
    • Sebagai seorang Muslim, keikhlasan, ketulusan dan kejujuran sangat penting. Ia akan berbagi pengalaman baik dan berusaha demi umat manusia. Semua orang harus memberinya dukungan untuk membangun persepsi yang benar dan pandangan yang jelas tentang apa yang telah dilaluinya.
  • Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

    Apdf-id

    Jajak Pendapat

    Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak mewakili kaum Muslim.

    Hasil Peninjauan

    Rangkaian Foto

    Umat Islam membaca Al-Qur'an di Masjid Agung Istiqlal pada 4 Mei di Jakarta, sebagai bagian dari "Satu Hari Satu Juz", sebuah program yang mendorong umat Islam untuk menjalankan hidup berdasarkan kitab suci agama Islam. Lebih dari 90% dari 250 juta penduduk Indonesia adalah Muslim moderat. [Adek Berry/AFP]

    Kelompok garis keras Indonesia ancam toleransi

    Tradisi Islam moderat dan toleran di Indonesia terancam oleh kelompok-kelompok garis keras yang memaksakan pandangan konservatif mereka pada orang lain dan mengintimidasi agama minoritas.