Keadilan dijunjung dalam kekerasan pra-pemilu Aceh

Sebuah pengadilan menjatuhkan hukuman berat untuk dua orang yang membantu tindakan terorisme menjelang pemilihan gubernur Aceh pada tahun 2012.

Oleh Andhika Bhakti untuk Khabar Southeast Asia di Jakarta

April 10, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

Dua orang yang terlibat dalam kekerasan menjelang pemilu di Aceh pada bulan April 2012 telah dijatuhi hukuman penjara, menimbulkan rasa lega kepada warga di daerah di mana penembakan itu terjadi.

  • Warga Aceh memberi suara dalam pemilu kedua provinsi pada tanggal 9 April 2012. Dua orang divonis dan dijatuhi hukuman penjara yang panjang pada tanggal 28 Maret karena peran mereka dalam terorisme pra-pemilu, yang memuncak dalam penembakan para pekerja PT Telkom di kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, pada 31 Desember 2011. [Adek Berry/AFP]

    Warga Aceh memberi suara dalam pemilu kedua provinsi pada tanggal 9 April 2012. Dua orang divonis dan dijatuhi hukuman penjara yang panjang pada tanggal 28 Maret karena peran mereka dalam terorisme pra-pemilu, yang memuncak dalam penembakan para pekerja PT Telkom di kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, pada 31 Desember 2011. [Adek Berry/AFP]

Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Zakaria, alias Jack bin Ahmad, 12 tahun penjara atas perannya dalam penembakan terhadap para pekerja PT Telkom di kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, pada tanggal 31 Desember 2011. Penembakan itu menyebabkan tiga orang tewas dan tujuh luka-luka.

"Terdakwa terbukti telah membantu tindak pidana terorisme," kata ketua Hakim M. Saptono dalam sidang vonis pada tanggal 28 Maret, menurut Tempo.

Sementara itu, Zainal Abidin dijatuhi hukuman delapan tahun penjara karena keterlibatannya dalam penembakan fatal terhadap seorang pria setempat di sebuah warung kopi di Desa Seureuke, Aceh Utara pada tanggal 2 Januari 2012. Zainal dihukum di bawah Undang-Undang anti terorisme Indonesia No.15 tahun 2003.

Seorang pengacara untuk kedua orang tersebut, Ahid Syaroni, mengatakan bahwa dia berpikir untuk naik banding atas putusan tersebut, yang menurutnya terlalu berat.

"Peran kedua orang tersebut, Zakaria dan Zainal, hanyalah untuk membantu, melakukan pengamatan lokasi, mengawasi keberadaan polisi," kata Ahid setelah persidangan, seperti dikutip Tempo.

Peringatan bagi yang lain

Nuhariyati, warga dari Bireuen, mengatakan kepada Khabar Southeast Asia bahwa ia puas keadilan telah dijunjung untuk kejahatan yang mengerikan.

"Perbuatan seperti ini tidak memberikan contoh yang baik kepada masyarakat kami. Mereka membuat orang merasa tidak aman dan terancam. Untuk anak-anak kami, ini lebih buruk lagi. Tindakan kekerasan tidak memberikan contoh yang baik bagi anak-anak kita," katanya kepada Khabar melalui telepon.

Hukuman tersebut telah sesuai, menurut pandangannya. "Ini memberikan peringatan bagi mereka yang berusaha untuk mematahkan sifat toleransi kami," katanya.

Permohonan untuk perdamaian

Kedua orang ini sebelumnya tidak mengenal satu sama lain, menurut laporan media. Tetapi keduanya terlibat dalam penembakan yang didalangi oleh orang yang sama: seorang mantan komandan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang disebut Fikram, yang sekarang sedang menjalani hukuman 20 tahun untuk kejahatan tersebut.

"Fikram adalah mantan anggota GAM. Ia kecewa dengan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, yang menurut Fikram, tidak memenuhi janji untuk meningkatkan kesejahteraan anggota GAM," Irawanti, seorang mahasiswa pascasarjana dari Aceh di Universitas Indonesia, mengatakan kepada Khabar.

Tanpa mengesampingkan kasus ini, GAM dan teroris di Aceh adalah dua hal yang berbeda, menurut Al Chaidar, seorang pakar dan analis terorisme. "GAM sekarang telah setuju untuk berdamai, sementara anggota teroris tidak peduli tentang melakukan perdamaian," katanya kepada Khabar.

Para mantan pejuang gerilya Aceh sedang mencari lebih banyak dialog. Hubungan antara GAM dan pemerintah Indonesia telah membaik, dan beberapa mantan anggota GAM sekarang melayani sebagai pemimpin lokal.

Sebaliknya, sel-sel teror masih melancarkan serangan terhadap pemerintah dan pasukan keamanan. Pada tahun 2005 dan 2006, dalang teroris Noordin M. Top mengunjungi Aceh bersama 60 pengikutnya dan akhirnya mendirikan basis dan kamp-kamp pelatihan di Aceh Utara, Aceh Besar, dan Tamiang. Top dibunuh pada tahun 2009.

Seorang ulama Islam Aceh yang tinggal di Jakarta, Nasrullah Hasan, mengatakan setiap orang harus memahami bahwa sama seperti warga lain di Indonesia, masyarakat Aceh menginginkan kedamaian dan mengutuk setiap aksi teroris.

"Kami berharap bahwa lebih banyak lagi orang-orang yang bertanggung jawab dalam perencanaan terorisme akan dibawa ke pengadilan seperti Zakaria dan Zainal," katanya kepada Khabar. "Untuk masyarakat Aceh, tidak ada yang lebih penting daripada kedamaian."

Komentar Pembaca
KLIK DI SINI Untuk Menambah Komentar
    • Andre Rifandy
      April 11, 2013 @ 06:04:36AM
    • itu tmpt saya menuntut ilmu aga ma

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Apakah kelompok-kelompok ekstremis menyimpangkan makna jihad yang sebenarnya untuk merekrut pejuang untuk perang saudara Suriah?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah