Di Indonesia, tentara akan diadili karena penembakan di penjara

Militer Indonesia menjanjikan transparansi dan keadilan setelah mengkonfirmasikan bahwa para tentara yang tidak disiplin telah melakukan pembunuhan yang mengejutkan di penjara Yogyakarta.

Oleh Yudah Prakoso untuk Khabar Southeast Asia di Yogyakarta

April 16, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

Militer Indonesia telah berjanji untuk membawa keadilan kepada para anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat (Kopassus) yang menyerbu penjara di Sleman, Yogyakarta dan mengeksekusi empat tahanan dalam yang tampaknya merupakan serangan balas dendam.

  • Ratusan orang berkumpul untuk menyalakan lilin di Monumen Tugu di Yogyakarta pada tanggal 24 Maret untuk mengutuk penembakan di dalam penjara Cebongan di Sleman, Yogyakarta. [Foto: Yudah Prakoso/Khabar].

    Ratusan orang berkumpul untuk menyalakan lilin di Monumen Tugu di Yogyakarta pada tanggal 24 Maret untuk mengutuk penembakan di dalam penjara Cebongan di Sleman, Yogyakarta. [Foto: Yudah Prakoso/Khabar].

  • Petugas polisi mengumpulkan bukti di dalam penjara. Peneliti militer telah mengambil alih kasus ini, setelah TNI mengakui bahwa para tentaranya melancarkan serangan.

    Petugas polisi mengumpulkan bukti di dalam penjara. Peneliti militer telah mengambil alih kasus ini, setelah TNI mengakui bahwa para tentaranya melancarkan serangan.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Laksamana Agus Suhartono telah meminta masyarakat untuk mempercayai sistem peradilan militer, yang mengambil alih kasus ini tidak lama setelah para penyelidik militer mengumumkan bahwa tentara Kopassus telah mengakui serangan larut malam tersebut.

"Pesan khusus saya, mari kita yakini bahwa pengadilan militer akan menegakkan hukum," kata Laksamana Agus kepada para wartawan, Senin (8 April), menurut Republika.

Indonesia dikejutkan oleh laporan bahwa sebanyak 17 pria bertopeng dan bersenjata berat telah menyerbu sebuah penjara di Yogyakarta pada tanggal 23 Maret pada tengah malam, mengancam para sipir, kemudian menangkap dan mengeksekusi empat narapidana.

Orang-orang ini sedang menunggu persidangan dalam pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Heru Santoso, yang ditikam sampai mati dalam perkelahian di sebuah kafe di Sleman pada tanggal 19 Maret.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk pembunuhan brutal ini sebagai "main hakim sendiri".

"Dikatakan serangan itu terjadi karena ‘semangat persahabatan', karena sekelompok preman ecara brutal membunuh seorang anggota Kopassus. Tetapi kebrutalan dalam bentuk apa pun tidak bisa dibenarkan," katanya seperti dikutip The Jakarta Globe.

Kejatuhan yang berlanjut

Para peneliti militer sekarang ini mewawancarai puluhan saksi mata penembakan, yang diduga dilakukan oleh seorang pria bersenjata, menurut laporan tersebut.

Kapolda Yogyakarta dan komandan militer daerah di wilayah ini dicopot dari jabatan mereka beberapa hari setelah konfirmasi bahwa para anggota Kopassus adalah para pelaku serangan itu.

Jasad keempat korban - Hendrik Angel Sahetapi, Yohannes Juan Manbait, Gameliel Yermianto Rohi Riwu, dan Adrainus Candra Galaja - dikembalikan ke Nusa Tenggara Timur, provinsi asal mereka, pada tanggal 25 Maret.

Kerabat dari mereka yang tewas kemudian pergi ke Jakarta untuk mendesak para pejabat atas agar melakukan penyelidikan independen.

"Aksi main hakim sendiri dan pembunuhan tidak dapat ditoleransi ... Siapa pun yang terlibat dalam hal ini harus dipertanggungjawabkan dan menjalani proses hukum," kata Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana, setelah pertemuan pribadi dengan kerabat, menurut The Jakarta Post.

Seruan untuk keadilan

Tidak lama setelah serangan itu terjadi, Presiden Yudhoyono mengecam keras hal itu sebagai serangan terhadap aturan hukum, menurut juru bicara presiden Daniel Sparringa.

"Ini tidak hanya menyebabkan ancaman serius yang mempengaruhi perasaan publik terhadap keamanan; serangan itu juga menghancurkan kepercayaan mereka dalam supremasi hukum di negara republik ini," kata juru bicara itu.

Ratusan warga Yogyakarta berkumpul untuk menyalakan lilin di depan Tugu Yogya pada tanggal 24 Maret untuk mengutuk kekerasan itu.

Hari Cahya, seorang aktivis di acara itu, mengatakan hal itu bertujuan untuk mendesak para pejabat untuk memperkuat Yogyakarta sebagai daerah tanpa kekerasan. "Saya berharap pemerintah akan serius menindaklanjuti kasus ini," katanya.

Herjuno Sudibyo memimpin forum pemuda Ayodya Tulada. Dia mengatakan kepada Khabar bahwa protes ini bertujuan untuk memperkuat masyarakat dan memastikan bahwa keamanan tetap dipertahankan di Yogyakarta.

"Polri harus melanjutkan penyelidikan ini untuk menemukan para pelaku dan membawa mereka ke pengadilan," katanya.

Sekarang, keadilan berada di tangan militer. Komandan Kopassus, Mayjen Agus Sutomo, telah menjanjikan bahwa pengadilan militer akan dilangsungkan di Jawa Tengah dan terbuka untuk umum.

"Setiap orang akan dapat datang ke pengadilan. Sidang terbuka merupakan jawaban kami kepada mereka yang mempertanyakan apakah militer bisa imparsial ketika mengadili para tentara mereka sendiri," dia berkata seperti dikutip The Jakarta Post.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Seorang khalifah dipilih dengan bebas oleh kaum Muslimin di mana saja karena kebijaksanaan dan kualifikasi rohaninya. Proklamasi pemimpin ISIL ini akan dirinya sendiri sebagai khalifah untuk semua kaum Muslim melanggar prinsip Islam.

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Umat Islam membaca Al-Qur'an di Masjid Agung Istiqlal pada 4 Mei di Jakarta, sebagai bagian dari "Satu Hari Satu Juz", sebuah program yang mendorong umat Islam untuk menjalankan hidup berdasarkan kitab suci agama Islam. Lebih dari 90% dari 250 juta penduduk Indonesia adalah Muslim moderat. [Adek Berry/AFP]

Kelompok garis keras Indonesia ancam toleransi

Tradisi Islam moderat dan toleran di Indonesia terancam oleh kelompok-kelompok garis keras yang memaksakan pandangan konservatif mereka pada orang lain dan mengintimidasi agama minoritas.