Kekerasan dan narkoba memprihatinkan para tetua desa Narathiwat

Para anggota masyarakat yang dihormati mengatakan orang tua dan wali memiliki peran penting dalam mempengaruhi generasi muda untuk merangkul cara kehidupan yang baik di Ujung Selatan, yang sedang terkoyak oleh kecanduan dan pemberontakan yang berkobar.

Oleh Rapee Mama untuk Khabar Southeast Asia di distrik Yi-ngor, Narathiwat

April 26, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

Para tetua desa di distrik Yi-ngor, Narathiwat, telah menyatakan keprihatinan bahwa penyalahgunaan narkoba yang merajalela di kalangan muda-mudi Muslim mencabik-cabik masyarakat dan mengobarkan pemberontakan di wilayah yang bermasalah ini.

  • Para tetua dari sembilan desa di kecamatan Choboh di Narathiwat berkumpul dengan keluarga mereka untuk upacara khusus pada tanggal 18 April. Acara ini menjadi forum di mana para anggota masyarakat senior yang dihormati bisa berbagi pengalaman dan pandangan. [Rapee Mama/Khabar]

    Para tetua dari sembilan desa di kecamatan Choboh di Narathiwat berkumpul dengan keluarga mereka untuk upacara khusus pada tanggal 18 April. Acara ini menjadi forum di mana para anggota masyarakat senior yang dihormati bisa berbagi pengalaman dan pandangan. [Rapee Mama/Khabar]

Kekhawatiran mereka disuarakan selama upacara tanggal 18 April yang diselenggarakan oleh Organisasi Administrasi Kecamatan Choboh (Choboh TAO) untuk menghormati para tetua di sembilan desa di kecamatan tersebut.

Beberapa ribu anggota keluarga setempat hadir dalam acara tersebut, termasuk lebih dari 100 manula, dari usia 70-105 tahun. Para tetua menceritakan bagaimana tantangan hidup telah membantu mereka tumbuh menjadi Muslim yang baik dan menghantarkan kebahagiaan di usia tua mereka dan memungkinkan mereka untuk mewariskan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Akan tetapi, mereka juga memperingatkan bahwa generasi mendatang menghadapi risiko, terutama karena narkoba dan kecanduan lainnya.

"Saya sangat mengkhawatirkan masalah penggunaan narkoba ilegal, yang menyebar cepat dan berbahaya dalam masyarakat kita dan bisa menjadi satu alasan kenapa banyak anak muda mengambil jalan yang salah dan bergabung dengan pemberontakan karena kebodohan mereka," Suding Mahadung, 92 tahun, dari Desa 4 Choboh berkata dalam bahasa Pattani Melayu melalui penterjemah asal Thailand.

"Para ibu, ayah dan sahabat, semua berperan dalam memberikan nasihat dan saran, sehingga kaum muda dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang baik di masa depan, sehingga mereka bisa meneruskan tradisi ini kepada anak-anak mereka sendiri," katanya. "Usia saya hampir 100 tahun sekarang, tapi dalam hidup saya, saya tidak pernah mengalami jenis kekerasan yang kita saksikan di masyarakat kita hari ini.

"Masalah kaum muda kita yang diperbudak narkotika belum ditangani secara serius, meskipun kita sudah melihat akibat penyalahgunaan narkoba yang amat buruk di sekitar kita," kata Suding.

“Apa yang telah terjadi kepada komunitas kita?”

Abdunalee Jehsanee, seorang penduduk berusia 83 tahun dari Choboh, memiliki pesan yang sama untuk muda-mudi yang rentan dipengaruhi oleh pemberontakan.

"Saya sudah tua dan kesehatan saya tidak begitu baik, namun kecemasan saya satu-satunya adalah tentang generasi penerus yang harus tumbuh besar dengan kerusuhan ini di sekitar mereka," katanya.

"Apa yang terjadi pada masyarakat kita bahwa kita bahkan tidak bisa lagi berbicara bersama? Mengapa kita membunuh satu sama lain setiap hari? Untuk siapa ini dilakukan dan apa gunanya? Sungguh menyakitkan bagi saya bila memikirkannya. Suatu hari saya akan mati, dan ketika hari itu tiba, harapan saya hanyalah bisa melihat perdamaian kembali ke tanah air kita. "

Menurut Muhammad Sanmarn, kepala Asosiasi Imam Distrik Yi-ngor, acara ini merupakan hasil dari upaya akar rumput gabungan oleh para kepala desa, dewan ketua kecamatan dan pemimpin agama di seluruh distrik.

Menurutnya, tujuannya adalah untuk membentuk forum di mana pandangan para anggota tertua dan paling dihormati masyarakat bisa didengar oleh semua orang.

"Kita semua menghargai kearifan orang-orang yang mendirikan desa kami dan yang sekarang menjadi warga manula, jadi kami mengadakan acara ini untuk menunjukkan tingginya kepedulian kami terhadap orang-orang terhormat ini dan memberi mereka kehormatan yang layak di depan keluarga mereka dan anggota masyarakat lainnya," katanya.

"Kekhawatiran terbesar mereka, hal yang paling mereka bicarakan saat ini, adalah kesejahteraan kaum muda mereka, terutama penyalahgunaan narkoba yang tersebar dengan marak. Begitu mereka kecanduan, pengobatan untuk menyapih mereka dari narkotika adalah perjalanan yang panjang dan sulit. Dan mereka yang telah diperbudak narkoba dengan mudah bisa disesatkan oleh orang-orang yang bermaksud jahat, termasuk pemberontak."

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak mewakili kaum Muslim.

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Umat Islam membaca Al-Qur'an di Masjid Agung Istiqlal pada 4 Mei di Jakarta, sebagai bagian dari "Satu Hari Satu Juz", sebuah program yang mendorong umat Islam untuk menjalankan hidup berdasarkan kitab suci agama Islam. Lebih dari 90% dari 250 juta penduduk Indonesia adalah Muslim moderat. [Adek Berry/AFP]

Kelompok garis keras Indonesia ancam toleransi

Tradisi Islam moderat dan toleran di Indonesia terancam oleh kelompok-kelompok garis keras yang memaksakan pandangan konservatif mereka pada orang lain dan mengintimidasi agama minoritas.