OKI minta misi pencari fakta datang ke Myanmar

Agustus 07, 2012
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

JEDDAH, Arab Saudi - Ketua Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Minggu (5 Agustus), mengusulkan untuk mengirimkan misi guna menyelidiki pembunuhan Muslim Rohingya di Myanmar yang mayoritas Budha, menurut AFP.

OKI akan berusaha membujuk pemerintah di Yangon untuk menerima misi pencari fakta, kata Ekmeleddin Ihsanoglu dalam pertemuan komite eksekutif kelompok Muslim terbesar dunia itu, yang berbasis di kota Jeddah, Saudi.

"OKI telah mengarahkan kantornya di PBB di New York untuk mendesak Dewan itu menyelidiki penderitaan minoritas Rohingya," katanya, yang dikutip dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh organisasi yang terdiri dari 57 anggota itu.

Kekerasan yang meletus pada bulan Juni di negara bagian Rakhine antara umat Budha dan Rohingya itu menewaskan sekitar 80 orang dari kedua belah pihak, menurut angka resmi.

Namun demikian, Human Rights Watch yang berbasis di New York mengatakan jumlah itu "terlalu dikecilkan," dan menuduh pasukan keamanan menembaki orang-orang Muslim dan melakukan pemerkosaan.

Baik anggota komunitas Muslim maupun Budha melakukan perbuatan kekerasan yang mengerikan dengan laporan adanya pemenggalan kepala, penusukan, penembakan, dan pembakaran meluas di Rakhine, tambah laporan itu.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Ramadan-id

Jajak Pendapat

Seorang khalifah dipilih dengan bebas oleh kaum Muslimin di mana saja karena kebijaksanaan dan kualifikasi rohaninya. Proklamasi pemimpin ISIL ini akan dirinya sendiri sebagai khalifah untuk semua kaum Muslim melanggar prinsip Islam.

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah