Ulama Mesir kecam kekerasan di Ujung Selatan

Oktober 24, 2012
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

KAIRO, Mesir - Menteri Luar Negeri Thailand Surapong Tovichakchaikul mengakhiri perjalanannya ke Kairo, Senin (22 Oktober). Dia mengatakan bahwa ulama muslim terkemuka Mesir, Sheikh Ahmed el-Tayeb, telah mengutuk kekerasan militan yang terus berlangsung di Ujung Selatan.

Menurut The Bangkok Post, pemimpin spiritual Mesir itu juga menyanggupi undangan untuk mengunjungi Thailand, dengan perjalanan dijadwalkan tentatif bulan depan.

Sementara itu, kementerian luar negeri Thailand mengatakan kepada wartawan bahwa Surapong dan mitranya dari Mesir Mohamed Kamel Amr membahas situasi di provinsi perbatasan selatan, dan Surapong menjelaskan bahwa perlakuan terhadap umat Islam Thailand di sana didasarkan pada filsafat "memahami, menjangkau dan mengembangkan".

Dia menambahkan bahwa Thailand mengundang Wakil Khusus Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengunjungi Thailand dan bertemu dengan tokoh-tokoh kunci di provinsi perbatasan selatan.

Di Mesir, Surapong juga bertemu dengan mahasiswa Muslim Thailand dan secara khusus mengunjungi asrama untuk wanita di Universitas Al-Azhar, yang sebagian dibangun dengan sumbangan dari Thailand. Dia mengatakan kepada para mahasiswa bahwa kementerian luar negeri mendukung studi mereka, dengan harapan suatu hari mereka dapat meningkatkan pengembangan Thailand.

Dari sekitar 2.000 mahasiswa muslim Thailand di Mesir, sebagian besar adalah perempuan. Membangun asrama untuk perempuan Muslim Thailand adalah salah satu cara untuk mempromosikan kesejahteraan dan keamanan, menurut pernyataan kementerian luar negeri itu.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Apakah kelompok-kelompok ekstremis menyimpangkan makna jihad yang sebenarnya untuk merekrut pejuang untuk perang saudara Suriah?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah