Jajak pendapat: Mayoritas berharap pada perundingan damai Ujung Selatan

Maret 19, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

BANGKOK, Thailand - Sebuah jajak pendapat baru menunjukkan bahwa hampir dua pertiga rakyat yakin perundingan damai antara pemerintah dan kelompok pemberontak Barisan Revolusi Nasional (BRN) bisa membantu mengakhiri kerusuhan satu dekade di provinsi Ujung Selatan, demikian lapor The Bangkok Post.

Jajak pendapat dari Institut Nasional Administrasi Pembangunan (NIDA) menunjukkan bahwa 65% dari mereka yang disurvei akhir pekan lalu yakin pembicaraan damai akan menuntun ke arah berakhirnya kerusuhan dan lebih baik daripada penggunaan kekuatan militer.

Namun 24% mengatakan seharusnya tidak perlu ada perundingan dengan BRN. Mereka juga mengatakan perundingan apapun akan sia-sia, terlalu mementingkan kelompok pemberontak, dan hanya merupakan permainan politik.

Berdasarkan daerah, hampir 68% dari responden yang tinggal di luar tiga provinsi selatan mendukung perundingan damai tersebut, dibandingkan dengan 56% dari mereka yang tinggal di dalam provinsi.

Secara terpisah pada hari Jumat, Kepala Angkatan Darat Jenderal Prayuth Chan-ocha menjelaskan bahwa pemerintah bersedia untuk berbicara dengan kelompok pemberontak lainnya, selama mereka bergabung dalam negosiasi yang dijadwalkan akhir bulan ini dengan BRN. Pemerintah tidak akan berunding dengan masing-masing kelompok satu per satu, katanya kepada Kantor Berita Nasional Thailand.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Apakah kelompok-kelompok ekstremis menyimpangkan makna jihad yang sebenarnya untuk merekrut pejuang untuk perang saudara Suriah?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah