Kemajuan perundingan damai Ujung Selatan dilaporkan

Maret 30, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

KUALA LUMPUR, Malaysia - Putaran pertama perundingan damai resmi antara pemerintah Thailand dan kelompok pemberontak dari provinsi-provinsi Ujung Selatan sudah berakhir, Kamis (28 Maret), dengan kesepakatan atas kerangka acuan untuk perundingan lanjutan, demikian lapor media setempat.

Setelah berunding selama 12 jam di Kuala Lumpur, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand, Paradorn Pattanatabut, mengatakan putaran berikutnya akan diadakan sebulan lagi. Dia menambahkan bahwa kedua belah pihak telah saling bertukar pendapat terbuka tentang menyelesaikan situasi setelah bertahun-tahun terjadi serangan pemberontak hampir setiap hari di Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat, demikian menurut MCOT Online.

Menurut The Bangkok Post, kepala kantor penghubung Barisan Revolusi Nasional (BRN), Hassan Taib mengajukan permintaan amnesti umum yang mencakup empat butir: penarikan surat perintah penangkapan terhadap warga yang diduga pemberontak, pembebasan para tahanan yang dinyatakan bersalah dalam kasus kekerasan di wilayah selatan, pembersihan kasus yang masih berlangsung terhadap para pemberontak, dan pencabutan daftar hitam tersangka pemberontak.

Paradorn mengatakan bahwa sementara ia menolak permintaan untuk membebaskan para tahanan, butir-butir lainnya akan dibahas dengan Departemen Kehakiman dan instansi terkait lainnya.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Apakah kelompok-kelompok ekstremis menyimpangkan makna jihad yang sebenarnya untuk merekrut pejuang untuk perang saudara Suriah?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah