Kemajuan perundingan damai Ujung Selatan dilaporkan

Maret 30, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

KUALA LUMPUR, Malaysia - Putaran pertama perundingan damai resmi antara pemerintah Thailand dan kelompok pemberontak dari provinsi-provinsi Ujung Selatan sudah berakhir, Kamis (28 Maret), dengan kesepakatan atas kerangka acuan untuk perundingan lanjutan, demikian lapor media setempat.

Setelah berunding selama 12 jam di Kuala Lumpur, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand, Paradorn Pattanatabut, mengatakan putaran berikutnya akan diadakan sebulan lagi. Dia menambahkan bahwa kedua belah pihak telah saling bertukar pendapat terbuka tentang menyelesaikan situasi setelah bertahun-tahun terjadi serangan pemberontak hampir setiap hari di Provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat, demikian menurut MCOT Online.

Menurut The Bangkok Post, kepala kantor penghubung Barisan Revolusi Nasional (BRN), Hassan Taib mengajukan permintaan amnesti umum yang mencakup empat butir: penarikan surat perintah penangkapan terhadap warga yang diduga pemberontak, pembebasan para tahanan yang dinyatakan bersalah dalam kasus kekerasan di wilayah selatan, pembersihan kasus yang masih berlangsung terhadap para pemberontak, dan pencabutan daftar hitam tersangka pemberontak.

Paradorn mengatakan bahwa sementara ia menolak permintaan untuk membebaskan para tahanan, butir-butir lainnya akan dibahas dengan Departemen Kehakiman dan instansi terkait lainnya.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Apdf-id

Jajak Pendapat

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak mewakili kaum Muslim.

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Umat Islam membaca Al-Qur'an di Masjid Agung Istiqlal pada 4 Mei di Jakarta, sebagai bagian dari "Satu Hari Satu Juz", sebuah program yang mendorong umat Islam untuk menjalankan hidup berdasarkan kitab suci agama Islam. Lebih dari 90% dari 250 juta penduduk Indonesia adalah Muslim moderat. [Adek Berry/AFP]

Kelompok garis keras Indonesia ancam toleransi

Tradisi Islam moderat dan toleran di Indonesia terancam oleh kelompok-kelompok garis keras yang memaksakan pandangan konservatif mereka pada orang lain dan mengintimidasi agama minoritas.