Dalai Lama kutuk kekerasan anti-Muslim di Myanmar

April 25, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

LONDON, Inggris - Dengan rekaman video dan bukti lain yang terus bermunculan tentang kekejaman terhadap warga Muslim di MyanmarDalai Lama secara terbuka mengutuk kekerasan yang telah menyebabkan ratusan korban tewas dan diperkirakan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal, lapor IANS Rabu (24 April).

  • Dalai Lama, terlihat di sini dalam konferensi pers pada tanggal 16 April di Bern, swiss. Di London, 24 April, Dalai Lama mengutuk kekerasan anti-Rohingya di Myanmar, seraya mengatakan bahwa semua agama besar mengajarkan cinta, kasih sayang dan pengampunan. [Fabrice Coffrini / AFP]

    Dalai Lama, terlihat di sini dalam konferensi pers pada tanggal 16 April di Bern, swiss. Di London, 24 April, Dalai Lama mengutuk kekerasan anti-Rohingya di Myanmar, seraya mengatakan bahwa semua agama besar mengajarkan cinta, kasih sayang dan pengampunan. [Fabrice Coffrini / AFP]

Dalam sebuah wawancara dengan Siaran Berita Saluran 4 di Inggris, pemimpin spiritual Budha yang terkenal itu menyampaikan kritikan pedas terhadap mereka yang menghasut kebencian. .

"Banyak konflik yang dikobarkan atas nama agama tetapi nyatanya hal itu mungkin disebabkan oleh perbedaan politik atau ekonomi," katanya. "Kelompok fundamentalis selalu memikirkan diri mereka sendiri dan bukan nilai-nilai dari pihak lain, dan itu salah."

Saat ditanya tentang biksu militan Myanmar, U Wirathu, yang telah dijuluki "Bin Laden Buddha ", Dalai Lama mengatakan tindakannya itu terkutuk. "Apa yang dia lakukan adalah salah," katanya.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan ABC News di rumah pengasingannya di India, ia menggambarkan pembantaian di Myanmar sebagai "sangat menyedihkan".

"Semua agama besar mengajarkan kepada kita perbuatan cinta, kasih sayang dan pengampunan. Jadi seorang pelaku sejati tradisi-tradisi agama yang berbeda ini tidak akan melakukan kekerasan seperti itu dan mengintimidasi orang lain," katanya.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Apakah kelompok-kelompok ekstremis menyimpangkan makna jihad yang sebenarnya untuk merekrut pejuang untuk perang saudara Suriah?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah