Ketegangan agama marak di Ambon

Foto oleh Tagdard untuk Khabar Southeast Asia

2012-06-19

120619_photoessay1_tagdard

Setiap tahun masyarakat Ambon,Indonesia memperingati pahlawan kemerdekaan Thomas Matulessy, yang juga dikenal sebagai Pattimura, yang terbunuh dalam peperangan tahun 1817. Perayaan tahun ini dimulai dengan arak-arakan adat obor dari Saparua, sebuah pulau kecil di bagian timur Ambon menuju Stadion Merdeka di kota Ambon yang diikuti oleh ratusan pemuda. Akan tetapi, semangat perayaan tersebut berubah menjadi kekerasan ketika terjadi bentrokan antara penonton yang terbagi oleh garis agama.

Sebuah marching band SMA tampil di kota Ambon pada tanggal 14 Mei 2012, satu malam sebelum bentrokan kekerasan menodai perayaan tahunan tersebut. Sepuluh tahun setelah konflik kesukuan brutal memecah masyarakat Ambon sejak tahun 1999 sampai 2012, luka masih belum kunjung sembuh.

Pemicu kekerasan itu adalah suatu perdebatan di antara dua fraksi mengenai siapa yang berhak membawa obor peringatan Pattimura. Para kelompok saling melempar batu dan sebuah bom rakitan dilempar oleh orang tidak dikenal terhadap para pemuda dari kampung Mardika. Lima puluh penduduk terluka dan dibawa ke rumah sakit akibat perkelahian tersebut.

Keberpihakan agama memecah masyarakat Ambon. Pada keributanbulan Mei lalu, para pemuda dari desa Batumerah yang mayoritas Muslim bentrok dengan rekan-rekan mereka dari Mardika yang didominasi Kristen. Kedua kelompok tersebut saling melempar batu.

Sebuah rumah yang dimiliki oleh Benny Picauly, seorang umat Kristen yang tinggal di Mardika, dekat perbatasan dengan Batumerah telah dibakar oleh warga Muslim pada perselisihan yang terjadi pada hari Selasa, 15 Mei 2012. Secara keseluruhan ada tiga rumah yang dibakar, meskipun tidak ada korban jiwa dilaporkan akibat peristiwa pembakaran tersebut.

Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Maluku dikerahkan menuju daerah tersebut dalam kendaraan tempur dalam upaya membubarkan para perusuh.

Pasukan militer dan kepolisian berusaha untuk memisahkan dan membubarkan kelompok-kelompok pemuda Batumerah dan Mardika yang bertikai di Jalan Jendral Sudirman pada Upacara Obor Pattimura pada tanggal 15 Mei 2012.

Beberapa sepeda motor milik warga Kristen dibakar oleh para perusuh. Pertikaian terjadi di tengah-tengah Jalan Jendral Sudirman, yang terletak di sepanjang perbatasan Batumerah dan Mardika. Batumerah terletak di dalam batas kota Ambon dan dianggap sebagai kampung budaya dengan bahasa dan budaya tersendiri. Kampung tersebut dipimpin oleh seorang 'Raja' (Raja lokal). Sebaliknya, Mardika terbentuk belakangan, pada saat pemerintahan Suharto. Para pemuda Batumerah menyatakan bahwa para pemuda Mardika bukan merupakan penduduk asli Ambon dan dengan demikian tidak berhak untuk membawa Obor Pattimura.

Tentara Nasional dan Kepolisian Indonesia akhirnya berhasil membubarkan para pemuda perusuh dan memulihkan situasi. Semua jalanan kembali tenang pada keesokan paginya.

Personil Angkatan Bersenjata Indonesia mempertunjukkan persenjataan dan peralatan milik kelompok militan Laskar Jihad. Dengan bantuan jaringan teror internasional Abu Sayyaf, para militan Laskar memerangi umat Kristen di Ambon antara tahun 1999 dan 2002. Konflik tersebut menyebabkan sedikitnya 9.000 orang tewas dan 700.000 orang mengungsi (IDP).

Bom-bom rakitan rumah seperti diperlihatkan dalam foto ini telah sering digunakan oleh para militan Laskar Jihad selama pertikaian 1999 – 2002.

Sebuah jari tangan yang terputus akibat ledakan bom pada pertikaian Mei tergeletak di jalanan. Meskipun tidak dilaporkan adanya korban jiwa, banyak yang menderita luka berat. Jari tangan tersebut adalah milik seorang warga kampung Hative yang terperangkap dalam huru-hara tersebut dan terkena pecahan bom rakitan yang dilemparkan oleh para perusuh Batumerah.

Sebuah tampilan dari pertikaian Ambon tahun 1999 – 2002 menunjukkan para penduduk sipil tidak berdosa yang terluka parah. Perbedaan ekonomi memicu kekerasan tersebut, dimana para kelompok ekstrimis memanfaatkan kesengsaraan warga Muslim setempat, yang secara historis mengalami kekurangan secara ekonomi dibandingkan warga Kristen. Pertikaian tersebut mengakibatkan ribuan kematian dan penderitaan di kedua belah pihak.

Seorang korban dari pertikaian keagamaan di Ambon pada 1999 – 2002, diperkirakan terbunuh oleh salah satu bom rakitan Laskar Jihad. Untuk mendanai kampanye bersenjata mereka, Laskar mengumpulkan uang dan mendidik para anggota jihad dari seluruh Indonesia, termasuk dari Jawa, Sumatera dan Sulawesi.