Para murid pesantren berjaya sebagai pembuat film

Melalui film-film mereka, para murid menentang pandangan bahwa pesantren mempromosikan terorisme, dan dengan tegas menunjukkan bahwa santri mampu kreatif dalam membuat film, bukannya "merakit bom".

Oleh Ismira Lutfia Tisnadibrata untuk Khabar Southeast Asia di Jakarta

Juli 17, 2013
Kembali ke Format Awal Lebih kecil Lebih besar

Para pelajar dari sepuluh sekolah Islam di seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta pada akhir Juni untuk berpartisipasi dalam Santri Film Festival yang pertama kalinya diadakan, menampilkan film-film dokumenter buatan murid dengan tema toleransi dan perdamaian.

  • Para murid pesantren Sabilul Hasanah, Rizki Astari, dan Susi Yutika Sari (mengenakan jilbab) berpose dengan piala mereka di Erasmus Huis, Jakarta pada tanggal 21 Juni setelah memenangkan juara pertama dalam Santri Film Festival 2013. [Ismira Lutfia Tisnadibrata/Khabar].

    Para murid pesantren Sabilul Hasanah, Rizki Astari, dan Susi Yutika Sari (mengenakan jilbab) berpose dengan piala mereka di Erasmus Huis, Jakarta pada tanggal 21 Juni setelah memenangkan juara pertama dalam Santri Film Festival 2013. [Ismira Lutfia Tisnadibrata/Khabar].

  • Para pemenang dan peserta festival berpose dengan direktur Search for Common Ground untuk negara Indonesia, Scott Cunliffe, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan, Yenny Wahid, dan sutradara film Rako Prijanto. [Ismira Lutfia Tisnadibrata/Khabar].

    Para pemenang dan peserta festival berpose dengan direktur Search for Common Ground untuk negara Indonesia, Scott Cunliffe, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan, Yenny Wahid, dan sutradara film Rako Prijanto. [Ismira Lutfia Tisnadibrata/Khabar].

Festival ini adalah tindak lanjut dari serangkaian program kontra radikalisasi di pesantren yang dianggap "titik panas", menurut Agus Nahrowi, manajer program di Search for Common Ground (SFCG) cabang Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pencegahan konflik.

Mulai bulan Januari, SFCG mengadakan lokakarya selama tiga bulan untuk para murid sekolah Islam (santri) mengenai pembuatan film dokumenter - kemudian memutuskan untuk menyelenggarakan festival film untuk menampilkan hasilnya.

Pada bulan April, SFCG menerima 21 film buatan murid dengan tema-tema toleransi, keragaman, perdamaian, tanpa kekerasan, dan budaya tradisional, dari sepuluh pesantren di provinsi-provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan.

"Kami berharap melalui festival ini, para penonton dapat memiliki pemahaman yang lebih baik dari dunia santri muda di pesantren dan apa yang mereka rasakan melalui ide-ide, aspirasi, dan proses kreatif mereka," kata Agus kepada Khabar Southeast Asia.

Film tari meraih penghargaan tertinggi

Sebuah tim pelajar dari Pesantren Sabilul Hasanah di Banyuasin, Sumatra Selatan, meraih penghargaan utama festival untuk film mereka, yang membahas apakah tarian tradisional Jawa, Kuda Lumping, merupakan bentuk politeisme yang melanggar hukum Islam.

Aktris utama film ini, Susi Yutika Sari, 16 tahun, mengatakan kepada Khabar dia sangat senang akan prestasi film ini, terutama mengingat bahwa kisahnya berasal dari pengalamannya sendiri.

Dalam film itu, Susi meninggalkan hobinya menari setelah dia menjadi santri karena guru membaca Al-Qur'annya mengatakan kepadanya bahwa tarian ini sarat dengan mistik dan merupakan dosa baginya jika dia menari. Selama segmen utama tarian, penari dapat memasuki keadaan seperti kesurupan dan konon dirasuki roh halus.

Akhirnya dia melanjutkan menari, dengan dukungan orang tuanya, setelah memutuskan bahwa perannya di segmen pembukaan tarian tidak bertentangan dengan nilai-nilai sebagai seorang Muslim yang taat.

"Kami ingin mengirim pesan bahwa kita masih bisa melakukan tarian ini dan melestarikannya sebagai bagian dari warisan budaya kita tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam," kata Susi, yang keturunan Jawa dan berasal dari keluarga pemain Kuda Lumping.

Mengoreksi kesalahan persepsi

Film lain yang dipilih untuk festival berusaha untuk memperbaiki kesalahan persepsi yang dipercaya luas bahwa pesantren adalah tempat berkembang biak bagi para teroris.

Film yang berjudul "Santri Bukan Benih Teroris," adalah karya para murid dari Pesantren Al-Ghazaly di Bogor, Jawa Barat - provinsi yang dianggap sebagai sarang radikalisme dan bertumbuhnya konservatisme Muslim.

Anggota tim produksi Annisa Nur Munawaroh, 16, mengatakan bahwa film ini mengenai pembuktian kepada dunia bahwa santri mampu menjadi kreatif dalam membuat film, bukan dalam "merakit bom".

Film ini mengisahkan Ilham Kurniawan, seorang santri di Pesantren Al-Ghazaly, yang mencari jawaban untuk keprihatinannya mengenai persepsi publik, yaitu pengaitan pesantren dan para murid mereka dengan terorisme.

Dia mengunjungi sebuah gereja di dekat pesantrennya dan bertemu dengan seorang pendeta untuk mengkonfirmasi persepsi ini. Ternyata pendeta ini tidak setuju dengan persepsi tersebut, dan menekankan bahwa semua manusia diciptakan dan berkembang untuk melakukan hal-hal yang baik.

"Sebagai santri, kita dicap identik dengan terorisme, dan kadang orang mengolok-olok kita sebagai fanatik karena cara kita berpakaian. Kita sering merasa terpojok dengan stigma seperti itu," kata Annisa.

Dia menambahkan bahwa, bertentangan dengan kesalahpahaman itu, santri dapat ikut serta dalam memelihara perdamaian dan toleransi beragama serta membuktikan bahwa Islam adalah agama "cinta damai".

Akses ke dunia

Yenny Wahid, direktur eksekutif Wahid Institute, sponsor festival, mengatakan pembuatan film dapat memberikan santri dengan akses ke dunia di luar pesantren mereka, dan mengurangi persepsi bahwa mereka tertutup dan terisolasi.

"Ini memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas mereka tetapi masih dalam jalur perdamaian dan toleransi kami. Kami berharap mereka bisa menjadi agen perdamaian di masa depan," kata Yenny.

Festival ini berlangsung selama satu bulan di Jakarta, Bandung, Tangerang, Bogor, Lebak, Tasikmalaya, Cirebon, Solo, Lamongan, Palembang, dan Makassar. SFCG sedang mempertimbangkan untuk menjadikannya sebagai acara tahunan, mengingat respon positif dari para murid.

Isi Komentar (Tata Cara Berkomentar)* Menandai tempat yang harus diisi

Jajak Pendapat

Apakah kelompok-kelompok ekstremis menyimpangkan makna jihad yang sebenarnya untuk merekrut pejuang untuk perang saudara Suriah?

Hasil Peninjauan

Rangkaian Foto

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami  sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah