Sementara pemberontakan di Ujung Selatan di Thailand terus berlanjut, keluarga-keluarga menderita dan tabah

Foto-foto oleh AFP dan Ahmad Ramansiriwong khusus untuk Khabar dan atas izin SBPAC

2014-03-25

140325-ksea_th_deepsouthvictims3

Mariyah Nibosu, yang suaminya ditembak mati pada tahun 2009 oleh orang-orang bersenjata tak dikenal, berdiri di luar rumahnya pada bulan September 2013 di 'desa janda' Rotan Batu yang dikelola negara, 20km dari Narathiwat. ”Para wanita sangat menderita di sini,” katanya. ”Tetapi kami tabah. Kami harus memberi makan anak-anak kami sendirian. Kami harus bertahan hidup.” [Christophe Archambault/AFP]

Putra Mariyah yang berusia 3 tahun memegang foto ayahnya yang tewas dibunuh, yang tak pernah dikenalnya. Duka atas kekerasan di Ujung Selatan menyatukan para wanita tanpa mempedulikan agama. Dalam sepuluh tahun sejak pemberontakan berkobar, hampir 6.000 orang telah tewas. [Christophe Archambault/AFP]

Tungrudee Jaiin (kanan) menyiapkan makanan di rumahnya di Rotan Batu. Pada tahun 2009, suaminya - yang karenanya diamasuk Islam — dibunuh oleh para pemberontak yang menuduhnya sebagai seorang informan pemerintah. Dua minggu kemudian, para penyerang kembali untuk menyerangnya. Dia selamat setelah ditembak di wajah, perut dan kaki, tetapi satu matanya menjadi buta. Putranya menderita luka bakar parah yang disebabkan oleh api yang disulut oleh para pemberontak. [Christophe Archambault/AFP]

Satpam-satpam berjaga di sebuah sekolah di Narathiwat setelah kepala sekolahnya dibunuh oleh tersangka militan separatis pada bulan Desember 2012. Kekerasan terhadap para pendidik telah menyebabkan tingkat gangguan stres pasca-trauma yang tinggi di kalangan anak-anak di Ujung Selatan. [Madaree Tohlala/AFP]

Guru-guru menangis setelah dua kolega mereka tewas oleh serangan bom pinggir jalan di Chanae, Narathiwat pada tanggal 24 Juli 2013. [Madaree Tohlala/AFP]

Keluarga-keluarga ikut serta dalam kegiatan Hari Anak di Distrik Muang di Yala pada tanggal 11 Januari. Bagi anak-anak di Ujung Selatan, kekerasan yang tidak menentu dan adanya pasukan keamanan bersenjata adalah bagian rutin dari kehidupan. [Ahmad Ramansiriwong/Khabar]

Para anggota Perkumpulan Kursi Roda ”Tangan Bergulir” di Narathiwat ikut serta dalam acara doa dan dukungan di RS Narathiwat Rachanakharin di Distrik Muang, pada tanggal 4 Februari. Kelompok ini termasuk para korban pemberontakan dari etnis Melayu Muslim dan Buddha Thailand. [Foto atas izin Pusat Administrasi Provinsi Perbatasan Selatan (SBPAC)]

Anak-anak Muslim belajar di madrasah setempat di Rotan Batu, Narathiwat, di mana para perempuan yang menjadi janda karena kekerasan di Ujung Selatan berjuang untuk membesarkan dan mendidik anak-anak mereka seorang diri. [Christophe Archambault/AFP]

Padeelaeh Mayu memulihkan diri di rumah sakit setelah serangan pada 3 Februari yang menewaskan tiga anaknya, berusia 6, 9 dan 11 tahun. Sejumlah pria bersenjata menembaki Padeelaeh yang sedang hamil dan keluarganya saat mereka pulang dari shalat Isya di distrik Bajoh Narathiwat. Pihak berwenang kemudian menangkap dua anggota pembangkang dari unit keamanan relawan atas apa yang mereka sebutkan sebagai pembunuhan balas dendam. [Foto oleh SBPAC]